Jumat, 07 Mei 2010

Permainan pengasah otak, atau unjuk eksistensi?


Putar-putar, otak-atik, bolak-balik. Berusaha menyatukan warna yang sama agar terbentuk susunan yang bagus sesuai awal.

Rubik adalah sebuah alat permainan yang tersusun dalam bentuk kubus dengan 54 kotak kecil di semua sisinya. Awalnya permainan ini diciptakan untuk mengasah logika dan perhitungan langkah kedepan seseorang. Sehingga tidak hanya bermain saja, tapi juga ada tujuan lain yang bisa didapat dari rubik ini.

Berjalannya waktu membuat banyak orang penasaran dengan permainan tersebut. Semakin banyak orang mencoba menyelesaikan dan memecahkannya. Berkembang lagi, setiap orang berlomba untuk membuat jalan tercepat untuk menyelesaikan rubik ini.

Saat ini paling tidak bila anda search di mbah Google dengan keyword "rumus rubik", akan muncul lebih dari 50 tutorial penyelesaian yang berbeda untuk 1 jenis rubik. Dan semuanya memiliki waktu tempuh sendiri-sendiri untuk dapat menyelesaikannya dari dasar.

Seperti yang sudah diketahui banyak orang, bangsa Indonesia adalah bangsa yang "kagetan". Beberapa orang bermain rubik, kemudian semuanya bermain rubik. Dirasa dapat bermain rubik dapat meningkatkan prestis mereka. Apalagi mereka menyelesaikannya menggunakan rumus yang sudah ada.

Melihat teman bermain rubik, segera membeli rubik. Dua hari utak-atik tidak ada hasil, mulai lah membuka google.com sebagai jalan terang. Belajar rumusnya semalam sudah berhasil, akhirnya kapan saja dan dimana saja bermain rubik. Pamer sana-sini.

Tapi perkembangan ini bukan perkembangan yang negatif. Penggunaan rumus yan sudah ada ternyata membuahkan kompetisi baru. Tidak lagi siapa yang bisa memecahkan rubik ini, tapi siapa yang tercepat dalam menyelesaikkannya. Bebas menggunakan rumus apa pun, yang terpenting warna semuanya pada posisi seharusnya. Sehingga rubik menjadi permainan kecepatan tangan.

Anda mau bermain rubik untuk kecepatan tangan anda atau mengasah otak anda? Silahkan anda tentukan sendiri.


Oleh : Damian Risandra

Tidak ada komentar: